Bismillah semoga menjadi amal Jariah untuk kita semua Aamiin. #KhalidBasalamah #Umar #Lucu #Sunnah #Salaf Abdullahbin Umar pernah berkata tentang orang-orang yang mulia. "Ada tiga orang Quraiys yang sangat cemerlang wajahnya, tinggi akhlaknya dan sangat pemalu. Bila berbicara mereka tidak pernah dusta. Dan apabila orang berbicara, mereka tidak cepat-cepat mendustakan. Mereka itu adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, dan Abu Ubaidah bin Padasuatu masa, ketika Utsman bin Affan telah diangkat menjadi Khalifah ketiga menggantikan Umar bin Khattab yang terbunuh. Sebelum wafat, Umar telah menunjuk enam orang sahabat. Hasil musyawarah itu menunjuk Ustman bin Affan sebagai Khalifah. Pada masa kekhalifahannya, ajaran Islam telah tersebar luas. Ketika itu, ajaran Nabi Muhammad telah 5Perbuatan Umar Bin Khattab yang Tidak Mungkin Dilakukan Para Pemimpin Indonesia. Menjadi seorang pemimpin besar, presiden katakanlah, terkesan seperti pencapaian yang prestisius. Enak memang jadi presiden, terutama karena kemudahan dan materi yang bakal didapatkan. Namun, di balik itu ada tanggung jawab besar. TELADAN: Kisah Istana Umar Al-Khattab RA Diterbitkan Belia Bangkit Pada "Akulah Umar bin Al-Khattab" jawab lelaki itu seraya bangun berdiri. yang berusia hampir seabad, untuk kembali menerajui Malaysia menjadi satu satira lucu bagi rakyat Indonesia, Pernahsuatu ketika, Muawiyah bin Hudaij ra datang menemui Umar setelah penaklukkan Iskandariyah. Lalu ia menderumkan hewan tunggangannya. Kemudian keluarlah seorang budak wanita. Budak itu melihat penat Umar setelah perjalanan jauh. Ia mengajaknya masuk. Menghidangkan roti, zaitun, dan kurma untuk Umar. Umar pun menyantap hidangan tersebut. KisahNu'aiman, Sahabat Paling Usil tapi Selalu Bikin Rasul Tertawa. Ilustrasi sahabat nabi Nu'aiman bin Ibnu Amr, sahabat yang usil dan selalu membuat Rasulullah tertawa. (Foto: Fuad Hasyim/detikcom) Rasulullah SAW dikelilingi oleh para sahabatnya dengan karakteristik yang beragam. Ada yang dikenal tegas dan keras seperti Umar bin Khattab, pun KISAHKHALIFAH UMAR BIN KHATTAB RA. , CERAMAH LUCU KH. ZAINUDDIN MZ. Dapatkan link; Facebook; Twitter; Pinterest; Email; Aplikasi Lainnya; Februari 16, 2020 KISAH KHALIFAH UMAR BIN KHATTAB RA. , CERAMAH LUCU COBAAN LAKI LAKI, HARTA TAHTA WANITA| CERAMAH LUCU TEST ZOOM BULAN DARI BUMI; 2012 1. KisahHafshah binti Umar - Hafshah adalah sosok wanita yang beriman, taat, tulus, sabar, tenang, suka bersedekah, puasa, berdzikir, bertaubat dan berjihad. Hafsah tumbuh dewasa di rumah Umar bin Khattab. Ia masuk Islam lalu menikah dengan Khunais bin Hudzafah as Sahmi, dan ia ikut berhijrah bersama suami ke Madinah. Liputan6com, Jakarta - Khalifah Umar bin Khattab merasa iba terhadap Abu Ubaidah dan keluarganya ketika menyaksikan kezuhudannya. Posisinya sebagai Gubernur wilayah Syam tak membuat Abu Ubaidah terlena dari gemerlapnya dunia.. Abu Ubaidah yang juga komandan pasukan tak hanya berhasil menaklukkan sejumlah wilayah, dia juga menundukkan ambisi jiwanya dari kemaruk harta duniawi. tEaTcR. Ada hadits Nabi Muhammad SAW "Barangsiapa yang taat kepada saya berarti dia taat kepada Allah. Dan barangsiapa membangkang kepada saya berarti dia durhaka kepada Allah. Barang siapa mematuhi kepada pemimpin yang saya tunjuk maka dia taat kepada saya. Dan siapapun yang membangkang pemimpin yang saya tunjuk, berarti dia durhaka kepada saya. ” Terkait hadits tersebut, ada cerita yang menarik di zaman para sahabat. Berikut ceritanya…Seorang sahabat Nabi bernama Amr bin Ash radiyallahu'anhu. Dia dulunya adalah musuh Islam. Setelah empat bulan masuk Islam, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam membentuk kekuatan untuk menyerang salah satu suku besar Arab yang pada dasarnya ingin menyerang Madinah. Amr bin Ash baru saja masuk Islam empat bulan lalu, oleh Nabi shalallhu'alaihi wasallam langsung diangkat sebagai pemimpin perang. Dan di peperangan ada sahabat Abu Bakar, ada Umar bin Khattab, ada Utsman bin Affan, ada Ali bin Abi Thalib, ada Zubai bin Awwam dan para sahabat mulia Nabi shalallhu'alaihi wasallam mengangkat Amr bin Ash. Keputusan Nabi harus dipatuhi, harus Amr bin Ash yang menjadi pemimpin perang. Setelah diangkat, harus ditaati dan tidak ada yang bisa menentang perintahnya. Jika dia bilang serang ... serang, hentikan ... hentikan, makan ... makan, pulang ... pulang. Semua perintah harus dipatuhi. Tuntunan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, siapapun yang mentaati pemimpin yang saya tunjuk maka dia taat kepada saya, dan barangsiapa yang membangkang maka dia durhaka kepada itu pasukan dikirim, gurun pasir, tempatnya jauh dan saat itu musim dingin. Udara malam yang dingin di sana serasa menusuk tulang. Dingin sekali! Dulu, saat musim dingin, orang menghangatkan badan dengan membuat api. Saat itu, Amr bin Ash menginstruksikan pasukannya, JANGAN MENGHIDUPKAN API! Umar bin Khattab tidak terima dengan instruksi Amr bin Ash, Umar berkata kepada Amr, "Wahai Amr dingin, dan kamu melarang kami untuk membakar api?" Amr berkata, "Instruksi saya adalah untuk tidak membakar!"Baca Juga Kisah Abu Bakar Ash-siddiq ketika Pertama Masuk IslamKita tahu, kalau Umar mengajak Amr berduel, kali ini Amr bisa mati, Umar orangnya sangat tinggi dan besar. Tapi Umar tidak jadi emosi, kemudian dia tinggalkan Amr. Kemudian Umar berbicara kepada Abu Bakar dan berkata, "Wahai Abu Bakar, apa ini maksudnya Amr baru masuk Islam sudah begini instruksinya?” Abu Bakar dengan bijak menjawab, “Wahai Umar, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam tidak menunjuk seseorang semetara beliau tahu ada Engkau dan para sahabatnya yang lain kecuali memag dia yang pantas. Mengikuti peritah dia berarti mengikuti Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam. Diam! Sabar! ”Mendengar kata-kata Abu Bakar, Umar akhirnya tetap diam dan sabar ...Besok pagi, sebelum fajar, pemimpin perang, Amr bin Ash, bermimpi junub. Sedangkan dia harus memimpin sholat shubuh untuk menjadi seorang imam. Tidak boleh yang lain. Padahal disitu ada Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali yang notabene adalah penghafal Al-Qur'an semua. Tetapi hukum syar'i bahwa siapapun yang menjadi pemimpin perang, maka dia harus menjadi pemimpin sholat. Sementara dikisahkan Amr bin Ash dalam keadaan junub. Ketika dia keluar dari tenda, dia meminta air oleh beberapa pasukannya. Umar bertanya, "Kenapa wahai Amr?" Amr berkata, "Saya junub" Kebetulan waktu dia pegang air itu sangat dingin. Kemudian Amr berkata, "Saya ingin tayamum". Umar berkata, "Ada air, tidak boleh melakukan tayamum." Amr berkata, "Saya ingin tayamum."Ini masalah lain lagi nih yang membuat Umar bin Khattab marah, tadi malam tentara kedinginan karena tidak boleh membakar api. Ini sekarang junub hanya ingin bertayamum. Umar berfikir Amr baru saja masuk Islam tapi berani mengganti hukum mandi junub dengan tayamum. Umar kesal, kemudian Umar menemui Abu Bakar, "Bagaimana ini kabar Abu Bakar?", Abu Bakar berkata, "Ingat .. Ini utusan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, tidak boleh membantah ..." Umar berkata, " Baiklah... ". Akhirnya, Amr bin Ash menjadi imam sholat subuh dan para sahabat serta seluruh tentara berkumpul di belakangnya. Ini adalah hal yang luar biasa. Seorang sahabat mandi junub hanya dengan tayamum, membuat teman-teman yang lain bertanya-tanya. Tetapi mereka tidak berani membantah, karena Amr sekarang adalah pemimpin sholat, Amr memberi perintah bersiap-siap menyerang musuh. Amr berpesan agar setiap orang harus bersama teman-temannya yang lain. Jadi setiap orang diinstruksikan untuk berjalan dengan salah satu temannya, tidak boleh berpisah. Serang musuh harus selalu berdua, tidak boleh ditinggalkan. Ini adalah bagian dari strategi perang, untuk menghadapi musuh yang sangat banyak. Konon jika suku ini menyerang Madinah, maka Madinah bisa dimusnahkan karena jumlah mereka yang dengan kekuatan hanya 300 orang, mereka berhasil mengalahkan suku tersebut. Ketika pasukan musuh sedang kacau, pasukan muslimin secara spontan ingin mengejar musuh untuk dijadikan tawanan perang, bisa dijadikan budak untuk diperdagangkan. Tapi kemudian Amr menginstruksikan pasukannya untuk tetap berdiri di sini, bukan mengejar musuh. Biar musuh lari, yang penting kita menang, kita kumpulkan rampasan ini yang bisa didapat, lalu pasukan instruksi ini, Umar bangkit kembali, "Wahai Amr, musuh sudah kabur, kita kejar dan potong lehernya." Amr berkata, "Tidak, instruksi saya, kumpulkan ghonimah, lalu kita pulang!" Akhirnya tim kembali ke Madinah dengan membawa ghonimah dan kabar kemenangan kepada Rasulullah. Baru sampai di Madinah, turun dari kudanya, Umar langsung mengadukan instruksi Amr kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Umar berkata, "Ya Rasulullah, Amr melakukan ini, tidak boleh menyalakan api saat kita kedinginan, malam dia mandi junub hanya bertayamum, musuh kita yang sudah kalah dilarang menangkapnya."Kemudian Nabi bertanya kepada Amr, "Wahai Amr, keluhan telah datang kepadaku, apa jawabanmu? Amr menjawab," Ya Rasulullah, musuh yang kita hadapi adalah musuh yang jumlahnya ribuan, jika mereka berhasil menyerang Madinah keesokan harinya, kita bisa musnah. Pertama, jika kita menyalakan api, mereka tahu kita ada, maka kalah pasukan kita yang berjumlah 300 orang sementara mereka jumlahnya ribuan. Kata Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, “Kamu benar.” Nabi bertanya, “Mengapa kamu mandi junub dengan tayamum?” Amr menjawab, “Ya Rasulullah, airnya seperti es, sangat dingin, jika saya mandi saya bisa sakit, saya pemimpin, jika saya sakit siapa yang memimpin perang? Sementara Anda amanatkan pasukan ini kepadaKu. Jadi saya memutuskan untuk melakukan tayamum. ". Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Kamu benar." Nabi bertanya yang terakhir, "Mengapa kamu membiarkan pasukan musuh melarikan diri?" Amr menjawab, "Ya Rasulullah, pasukan 300 melawan ribuan orang, jika kita menangkapi pasukan mereka, maka kita yang jumlahnya dikit pasti akan kelemahan, dan pasti kita akan dikalahkan. Strategi saya adalah pasukan kita harus berkumpul bersama-sama agar terlihat seperti jumlah pasukan banyak. Dan targetnya hanya untuk mengalahkan mereka, mereka kalah dan ketakutan, mereka juga tidak tahu jumlah pasukan kita karena langit saat itu gelap. Jadi saya rasa kita tidak perlu mengejar mereka, kita sudah mendapat ghonimah." Kata Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam," Kamu benar. " Abu Bakar kemudian menemui Umar bin Khattab, "Nah... serang Kamu sudah tahukan?"Hikmah dari cerita ini, Rasulullah SAW tidak pernah salah dalam memilih pemimpin. Meski pemimpin yang dipilih Rasulullah adalah orang yang baru masuk Islam, tapi subhanallah ternyata Amr menunjukkan bahwa dirinya memang pantas menanggung amanah yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW .. Wallahu A'lam Bishowab.. Umar bin Khattab selain dikenal sebagai sahabat Rasul yang paling garang dan kuat dalam membela Islam, namun dibalik kegarangannya terdapat hati dan perasaan yang amat bersih dan penuh kasih sayang. Beliau dikenal sebagai khalifah yang gaya blusukannya sangat merakyat. Selalu berbaur dengan rakyat, dan bahkan tak ingin makan sebelum semua rakyatnya telah kenyang. Pada saat beliau menjadi khalifah, terjadi musim paceklik dimana rakyatnya dan termasuk dia dilanda kekeringan dan kehabisan pangan serta kelaparan yang sangat hebat. Di tahun itu pula ladang-ladang tak bisa ditanami, hasil pertanian pun [walaupun ada] tak bisa dikonsumsi karena gagal panen. Saat itulah banyak [dan sebagian besar] umat Islam merasakan kelaparan dan butuh bantuan terutama kaum fakir miskin. Setiap mala sudah menjadi kebiasan khalifah Umar bersama ajudannya yang bernama Aslam berjalan menyisiri kota. Beliau hendak memastikan apakah ada rakyatnya yang sedang membutuhkan suatu hal sehingga rakyatnya bisa tidur nyenyak pada malam itu. Setelah menelusuri segala penjuru kota, hingga akhirnya Umar dan Aslam berhenti disuatu tempat sebab keduanya mendengar tangisan anak perempuan. Kemudian Umar yang didampingi Aslam berjalan untuk mendekati sumber suara tangisan itu. Ternyata tangisan itu berasal dari sebuah gubuk tua yang jauh dari kata layak. Karena penasaran, maka Umar mencoba mnegintip dari balik dinding kayu rumahnya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Ternyata Umar melihat seorang ibu yang sedang duduk didepan tungku api dan terlihat sedang memasak sesuatu. Sedangkan disamping ibu itu memang terlihat ada seorang anak perempuan yang sedang menangis dan mungkin anaknya. Maka Umar mengetok pintu gubuk itu dan mengucapkan salam, “Assalamualaikum”. Sontak si ibu berjalan menuju depan rumah guna membukakan pintu seraya menjawab salam Umar dan Aslam. “Waalaikum salam.” Ternyata ibu ini tidak tahu siapa sebenarnya tamu yang sedang dihadapinya. Dia tidak tahu bahwa tamu itu adalah khalifah Umar bersama ajudannya, Aslam. Maka dipersilahkan Umar dan Aslam untuk duduk didepan rumah. Sementara si ibu masuk lagi ke dapur untuk melanjutkan memasak. Terdengar suara panci yang sedang diaduk-aduk oleh tangan si ibu. Entah apa yang dimasaknya hingga bunyinya sangat nyaring terdengar. Sangat lama ibu itu terus mengaduk-aduk pancinya diatas tungku. Sedangkan Umar dan Aslam duduk diluar menunggu ibu selesai masak. Sementara anak perempuan tadi sudah terlihat tidur. Karena saking lamanya, maka muncullah rasa penasaran Umar untuk mengetahui apa sebenarnya ynag sedang dimasak oleh ibu tadi. Masuk lah Umar kedalam rumah yang menyatu dengan dapur. Dan beliau bertanya kepada ibu tadi, “Wahai ibu, apa yang sedang engkau masak?”. Lalu ibu itu menjawabnya dengan nada agak kesal, “Apakah kamu tidak melihat apa yang sedang saya masak?” Maka Umar dan Aslam mencoba mendekatkan wajahnya ke atas tungku untuk melihat apa yang sedang dimasak oleh ibu tersebut. Terbelalaklah mata Umar dan Aslam. Seakan keduanya tidak percaya apa yang dia sedang lihat. Kemudian bertanyalah kembali Umar kepada si ibu, “Apakah ibu sedang memasak batu?”. Tanya Umar masih tak percaya. Ibu itu tidak menjawabnya hanya saja dia menganggukkan kepalanya yang mengisyaratkan bahwa benar apa yang dia masak adalah batu. “Buat apa?” lanjut Umar kepada ibu. “Ini adala bentuk ketidak adilan khalifah Umar, dia hanya memperhatikan rakyatnya yang kaya. Sedangkan orang misikin seperti saya tak pernah dihiraukan keberadaannya. Khalifah Umar tak ingin melihat kebawah, dia hanya bisa menikmati bersama rakyat atas.” Kata ibu itu dengan suara lirih. Lanjut sang ibu, “Saya memasak ini untuk menghibur anakku. Lihatlah saya. Saya seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun saya suruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rezeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.” Ibu itu menjelaskan secara panjang lebar. Mendengar perkataan ibu itu, maka Umar berlinang air mata, lalu beliau menghapus air matanya dengan lengan bajunya. Dan segeralah dia menarik Aslam untuk pulang ke Madinah seraya berpamit pergi kepada si ibu. Setibanya di Madinah, langsung lah Umar menuju penyimpanan bahan makanan dan diletakkan satu sak gandum di punggungnya. Lalu dibawanya gandum itu menuju rumah si ibu dengan tetap dipikul gandum itu di punggungnya. Karena merasa kasihan, maka Aslam meminta kepada Umar bahwa dia yang akan membawanya, sedangkan Umar diminta untuk istirahat saja. Namun, apa tanggapan Umar kepada Aslam? Ternyata dengan muka yang sedikit memerah pada, Umar menjawab dengan nada keras, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Jika engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak? Ini adalah tanggung jawab saya sebagai khalifah, sedangkan kamu tidak dibebani dengan tanggung jawab ini.” Tegas Umar. Setibanya di rumah si ibu tadi, maka segeralah Umar memberikan satu sak gandum itu agar segera dimasak. Namun si ibu merasa bingung dan bertanya, “Siapakah engkau sebenarnya mengapa engkau memberiku gandum sebanyak ini? Bukankah kamu orang yang tadi datang kesini?” Umar menjawab, “Ya, saya adalah Umar bin Khattab khalifah yang seharusnya melayani semua rakyatnya, bu. Maafkan saya jika telah menjadi pemimpin yang dholim kepada rakyatnya selama ini, terutama kepada ibu.” Karena ibu itu memang belum pernha bertemu dengan Umar bin Khattab dan tidak tahu karakter asli dari Umar, sehingga ibu itu menganggap bahwa Umar adalah khalifah yang kejam dan tidak adil. Namun, melihat kenyataan itu, maka si ibu sekarang tahu siapa dan seperti apa khalifah Umar aslinya. Kemudian ibu tadi sangat terharu, ternyata apa yang dipikirkannya tentang Umar selama ini ternyata salah. Sebab beliau adalah pemimpin yang bersahaja dan sangat mengayomi semua rakyatnya hingga dia rela memikul gandum dengan bahunya sendiri. Maka ibu tadi berterimakasih kepada Umar atas keadilannya dan memohon maaf atas prasangkanya selama ini. Demikianlah salah satu kisah tentang kepemimpinan Umar bin Khattab yang memberikan keteladanan yang amat luar biasa. Terlebih dalam kondisi ketika banyak pemimpin negeri kita yang tak amanah. Oleh Ni’amul Qohar Sahabat Umar bin Khaththab yang sangat terkenal dengan sifat tegas dan kerasnya tersebut, ternyata ada sisi lain yang sangat perlu untuk diketahui oleh umat Islam. Yaitu kisah sedih dan lucunya yang pernah beliau alami di Zaman Jahiliyah. Suatu ketika beliau dan para sahabat lainnya sedang bercengkrama dalam satu majlis dengan Rasulullah SAW. Waktu itu posisi duduknya tepat berada di dekat baginda Rasulullah SAW, sehingga membuatnya dimintai tolong untuk bercerita, “Wahai Umar, coba ceritakan kepadaku sebuah kisah yang bisa membuatku ketawa” perintah Rasulullah SAW. Umar pun bercerita di hadapan Rasulullah SAW dan para sahabat lainnya. Beliau mengisahkan cerita lucu yang pernah dialami sebelum memeluk agama Islam. Dahulu Umar bin Khaththab sebelum memeluk agama Islam pernah membuat patung berhala untuk disembah yang terbuat dari bahan manisan. Tiba di suatu hari beliau merasa sangat lapar, kepada patung itulah Umar bin Khaththab meminta makan dengan berkata “Demi Latta, Uzza, dan Manna! yang mulia, tolong berikan aku rizki berupa makanan!” Setelah selesai ritual penyembahan, beliau pun bergegas pergi ke dapur untuk mencari makanan. Akan tetapi, tidak menemukan makanan sedikit pun di sana. Tanpa pikir panjang, beliau kembali ke tempat penyembahan patung manisan itu berada. Karena tidak tahan dengan rasa lapar, akhirnya Umar bin Khaththab memakan patung tersebut sampai habis. Ketika sudah habis, beliau baru sadar bahwa patung ini adalah tuhannya, tempatnya memuja dan meminta, penyesalan pun menimpa Umar bin Khaththab seketika itu juga. Mendengar cerita Umar ibn Khaththab, baginda Rasulullah SAW ketawa terkekeh-kekeh hingga terlihat gigi gerahamnya. Lalu diikuti oleh para sahabat lainnya yang juga ikut ketawa. “Memangnya di mana akal sehatmu wahai Umar pada waktu itu?”, tanya Rasulullah SAW lebih lanjut. “Sebenarnya, aku memiliki akal yang cerdas Ya Rasulullah. Akan tetapi sesembah tersebut telah menyesatkanku pada waktu itu”, tegas jawaban Umar.*** “Wahai Umar, sekarang sampaikanlah cerita sedih kepadaku yang bisa membuatku menangis” pinta Rasulullah SAW untuk kedua kalinya. Sahabat Umar bin Khaththab pun memulai bercerita tentang kisahnya yang pilu ketika sebelum memeluk agama Islam. Dulu Umar bin Khaththab mempunyai seorang anak perempuan, di suatu hari beliau mengajaknya ke sebuah tempat. Setibanya di sana, beliau mulai menggali tanah membentuk sebuah lubang. Setiap kali tanah hasil galian mengenai bajunya, si anak perempuan itu selalu membersihkannya. Sementara ia tidak tahu bahwa lubang tersebut nantinya untuk menguburnya hidup-hidup sebagai persembahan untuk berhala. Setelah selesai menggalinya, Umar bin Khaththab melempar anak perempuan tersebut masuk ke dalam lubang. Ia merasa takut sehingga membuatnya menangis kencang sambil menutup wajahnya dengan penuh iba. Tetapi Umar tetap menguburnya hidup-hidup hingga ia tak tampak lagi sebab sudah tertutup tanah. Namun, bayangan wajahnya masih saja memenuhi pikiran Umar ketika sedang mengamati gundukan tanah tersebut sebelum meninggalkannya. Umar bin Khaththab bercerita sambil menahan tangis. Mendengar kisah Umar bin Khaththab yang menyedihkan itu membuat Rasulullah SAW sedih yang tak kuasa menahan tangis. Air matanya pun yang bening itu menetes di pipinya. Begitu pula dengan Umar yang telah sangat menyesali perbuatannya di Zaman Jahiliyah. Tidak ketinggalan pula para sahabat yang hadir di majlis tersebut menangis terenyuh dengan kisah Umar ibn Khaththab. Sumber Qutub Izziddin Jamil Al-Syarwi, “Fiqih Humor”, Perpustakaan Mutamakkin Press, Pati, 2016. Ulama Nusantara Center Melestarikan khazanah ulama Nusantara dan pemikirannya yang tertuang dalam kitab-kitab klasik